Sepertinya aku baru merasa fajar turun dari ufuknya kemaren sore, sepertinya aku baru saja menyeduh kopi dan baru aku habiskan tadi pagi, sepertinya aku baru saja mengenalmu di awal pemotongan daging sapi di desa kalibening waktu itu. ketika kamu memakai baju koko putih selesai mandi. ketika kamu berjalan dengan santai dan tak tau malu menjulurkan tanganmu pada ku lalu kita sebutlah itu "perkenalan"
Setahun sudah, selama 24 jam waktu bergulir tak pernah memutar waktu. dan kita terpaksa menjalani karena dia akan tetap berlalu baik kita pergunakan hanya untuk tidur. 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan. kadang hanya bisa bertatap seminggu sekali tapi tetap saja mau tak mau kita sebut itu sabtu minggu tanpa kita jalani senin sampai jum'at nya. kadang terperangkap dalam sunyi ketika jenaka gelak tawa tersumbat oleh perkelahian yang sia-sia. menurutku itu hanya membuang-buang waktu saja. tapi kita tetap memaikannya dalam emosi sekilas dan robek entah dimana.
Terkadang kita juga terperangkap dalam aksara-aksara yang diperkenalkan pada kita. Aku yang hanya bisa tersipu pada bangunan segi empat kamarku yang kini sudah berganti warna. dan kamu. . .?? entah, mungkin sambil temaram dengan suasana bau badan dan keheningan rumah yang biasanya kamu sebut itu "sepi" dan kemudian wanita ini yang sanggup mengisi.
Pernah kita terbentur oleh dinding rumah besar ini dengan isi yang ada di dalamnya yang biasa kita sebut itu "restu". Napak tilas setahun lalu ketika aku datang dan hanya mengawali semuanya sebatas teman. dan sampai lah kita pada dewasa ini. Yah. . . kamu tahu jelas itu. Dan aku, berharap kini tak seminor sebelumnya.
Aku tak akan pernah mau bertannya, bahkan menghakimi pun aku tak mau. sekedar berusaha. . . itu pintamu !!
Pernah aku bertingkah manis, memarahi sebagian kecil kerabat wanitamu. yang kamu sebut itu dengan nama "cemburu". ah. . . aku rasa itu hanya kekeliruan yang biasanya kamu haturkan dengan mengatakan "Orang membenci bukan karena dia tidak menyukai, hanya saja kadang karena dia tidak tahu" :) aku salah satunya.
Pernah juga kita berebut makanan dan segelas kopi yang di tonton oleh jendela kamarku beserta hujan diluarnya yang belum sempat pergi. seolah mewakiliku untuk mengatakan jangan pulang bak sebentar saja.
Pernah kita menangis bersama hanya untuk memperjuangkan satu kata itu yang biasanya di sebut "cinta", yang tidak dirasa oleh dinding itu, yang biasa di lecehkan dan di hina seminor mungkin oleh elegi yang belum juga pupus di sekitarnya. dan akhirnya aku hanya bisa berkata "tak apa"
366 hari dari hari itu, yang hanya ada akhir dan aku mulai lagi setelah semuanya aku sadari belum mau aku terhenti sampai disini. semoga jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya. Dan semoga jika aku aku dan kamu berubah, semoga kita tidak menjadi dua hamba yang itu-itu saja di hari selanjutnya.
Selamat malam, Antalani
Setahun sudah, selama 24 jam waktu bergulir tak pernah memutar waktu. dan kita terpaksa menjalani karena dia akan tetap berlalu baik kita pergunakan hanya untuk tidur. 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan. kadang hanya bisa bertatap seminggu sekali tapi tetap saja mau tak mau kita sebut itu sabtu minggu tanpa kita jalani senin sampai jum'at nya. kadang terperangkap dalam sunyi ketika jenaka gelak tawa tersumbat oleh perkelahian yang sia-sia. menurutku itu hanya membuang-buang waktu saja. tapi kita tetap memaikannya dalam emosi sekilas dan robek entah dimana.
Terkadang kita juga terperangkap dalam aksara-aksara yang diperkenalkan pada kita. Aku yang hanya bisa tersipu pada bangunan segi empat kamarku yang kini sudah berganti warna. dan kamu. . .?? entah, mungkin sambil temaram dengan suasana bau badan dan keheningan rumah yang biasanya kamu sebut itu "sepi" dan kemudian wanita ini yang sanggup mengisi.
Pernah kita terbentur oleh dinding rumah besar ini dengan isi yang ada di dalamnya yang biasa kita sebut itu "restu". Napak tilas setahun lalu ketika aku datang dan hanya mengawali semuanya sebatas teman. dan sampai lah kita pada dewasa ini. Yah. . . kamu tahu jelas itu. Dan aku, berharap kini tak seminor sebelumnya.
Aku tak akan pernah mau bertannya, bahkan menghakimi pun aku tak mau. sekedar berusaha. . . itu pintamu !!
Pernah aku bertingkah manis, memarahi sebagian kecil kerabat wanitamu. yang kamu sebut itu dengan nama "cemburu". ah. . . aku rasa itu hanya kekeliruan yang biasanya kamu haturkan dengan mengatakan "Orang membenci bukan karena dia tidak menyukai, hanya saja kadang karena dia tidak tahu" :) aku salah satunya.
Pernah juga kita berebut makanan dan segelas kopi yang di tonton oleh jendela kamarku beserta hujan diluarnya yang belum sempat pergi. seolah mewakiliku untuk mengatakan jangan pulang bak sebentar saja.
Pernah kita menangis bersama hanya untuk memperjuangkan satu kata itu yang biasanya di sebut "cinta", yang tidak dirasa oleh dinding itu, yang biasa di lecehkan dan di hina seminor mungkin oleh elegi yang belum juga pupus di sekitarnya. dan akhirnya aku hanya bisa berkata "tak apa"
366 hari dari hari itu, yang hanya ada akhir dan aku mulai lagi setelah semuanya aku sadari belum mau aku terhenti sampai disini. semoga jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya. Dan semoga jika aku aku dan kamu berubah, semoga kita tidak menjadi dua hamba yang itu-itu saja di hari selanjutnya.
Selamat malam, Antalani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar