Kamis, 10 Juli 2014

Biar mereka yang memberi judul

Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. berokor anjing, babi, atau kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau. Dan berkepala ular, banteng, atau keledai. 

Namun tetap saja mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap makanan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakan bahasa dan sikap yang sopan. Dan mereka membaca buku-buku bermutu. Mereka menulis catatan-catatan penting. Mereka bergaun indah dan rapi. Bahkan konon mereka mempunyai hati. 

Waktu saya menyatakan bahwa saya juga mempunyai telinga dan hati, Mereka tertawa dan memandsng saya dengan penuh iba atas kebodohan saya. Katanya hati yang mereka maksud adalah perasaan, Selain itu mereka juga mempunyai otak. Tapi ketika saya protes dan menyatakan bahwa saya pun mempunyai otak. lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak. Katanya, otak yang mereka maksudkan adalah akal. 

Saya benar-benar tidak mengerti maksud mereka. Yang saya tau saat itu hanya hati saya terasa nyilu bagai disayat-sayat sembilu. Mungkinkah ini yang disebut perasaan? Tapi saya sudah terlanjur kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang saya rasakan. Dan saya tambah tidak mengerti jika benar ini adalah perasaan yang mereka maksudkan. Lalu mengapa mereka bisa menertawakan saya tanpa memperdulikan perasaan saya sama sekali?? 

Pada saat otak saya di penuhi pertanyaan ini, sayapun berfikir. Apakah ini yang mereka maksud dengan akal? 
Lalu mengapa akal mereka tidak sampai pada pikiran bahwa saya tidak senang dijadikan bahan omongan dan tertawaan? 

Sering saya meninggalkan mereka diam-diam, Suara tawa mereka makin lama makin memghilang seiring dengan bertambah jauh kaki saya melangkah. Saya tau saya tidak perlu pergi dengan cara diam-diam. kepergian saya toh tidak akan mengundang perhatian. Tapi mungkin itulah cara saya untuk menghibut diri sendiri dari "Keterasingan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar