Kamis, 10 Juli 2014

Ular

Di rumah itu kekasih saya memelihara ular, dia di perlakukan layaknya manusia. Dia di beri rumah tingkat dua, kamar yang besar dan mewah tepat di samping kamar kekasih saya, dia di beri makan. dan di berikan fasilitas.

Saya benci ular, bukan hanya karena dia licik. tapi saya sangat tidak menyukai bau dan bentuknya. Pernah saya meminta agar memelihara binatang yang lain saja, atau paling tidak biarkan saya memelihara binatang juga. tetapi kekasih saya hanya ingin di rumah memelihara binatang cuma ular-nya, dan hanya itu satu-satunya peliharaan yang di perbolehkannya.

Lambat laun si ular mulai berbuat ulah, kadang saat saya asik menonton tv. dia dengan sombongnya duduk di depan saya dan beraktivitas. entah mencari kabel, mencari roko atau korek api.
Saya sudah sering mengadukan sifat buruknya pada kekasih saya. tapi akhirnya kekasih saya lebih membela ularnya dan memyalahlan saya yang tidak bisa lebih mengalah.
Saya semakin benci ular, sekarang di tambah saya membenci kekasih saya sendiri.

Di belakang kekasih saya terkadang saya dapati si ular membelah diri. yang satu tetap di dalam kamar bersingkup manis agar jika kekasih saya pulang. dia tinggal melihat si ular berbaring manis di kamarnya, dan bahagialah kekasih saya peliharaannya ada di dalam kandang mewahnya.
Satu bagian lagi beranjak pada saya, dan beralih membela wanita-wanita diluar sana. agar bekerjasama dengan nya menghakimi keberadaan saya.

Yang paling saya tidak suka. ular itu kadang membisikan hal-hal buruk pada kekasih saya tentang ketidaksukaan nya pada saya. Tentang sifat buruk saya, tentang akhlaq saya, tentang agama saya, juga tentang penampilan saya.
Terkadang saya tidak habis fikir dengan ular. Tapi saya kembali lagi, dia ular dan dia adalah mahkluk dengan penglihatan yang buruk. hanya fikiran seperti itu yang bisa membuat saya samakin bahagia.

Sesekali saya juga membela diri di hadapan kekasih saya bahwa saya tidak seburuk dugaan ular, tetapi karena rasa sayang kekasih saya pada ular. semuanyapun buyar. Percakapan kamipun selalu di akhiri dengan kata "dia adil..percayalah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar