“Waktu menunjukan pukul delapan belas, lewat enam menit, Sembilan detik” aku melihat arlogiku lagi. Aku tanyakan berkali-kali pada orang yang aku temui senja ini. Setiap orang yang ku temui akan menjawab dengan jawababn yang sama “ hampir pukul enam nona”. Hemm… lalu manakah yang benar, penunjuk waktu atau gejala alam?”
Aku lihat lagi arlogiku, ternyata aku sudah membuang-buang waktu untuk sebuah pertanyaan konyol yang sudah aku yakini jawabannya. Yaitu, jam enam sore. Oke, sebelum jam tangan berubah menjadi sapu, mobil sedan berubah menjadi labu, dan aku berubah menjadi abu. Kita mulai kisahku. . .
Entah kapan persisnya Aku mulai tidak bersahabat dengan waktu. Waktu bagaikan seorang pembunuh yang selalu membuntuti dan mengintai dalam kegelapan. Siap menghunuskkan pisau kedadaku yang berdebar. Debaran yang sudah pernah ia lupakan rasanya. Debaran tahun lalu menyapakku dan mengeluarkan persahabatan abadi, hampir abadi.
Sebelumnyaaku begitu akrab dengan waktu, ketika ada sorang laki-laki menjanjikan akan melingkarkan cincin agung pada jari manisku. Ketika dia memberikanku khayalan akan ada tendangan halus pada dinding perutku, memandikan bayi-bayi ku. Menyiapkan sarapan pagi-pagi sekali. Rekreasi, membantuku, memarahi pembantu, membuka album foto yang berdebu, Mengiris wortel, pergi ke dokter, menelpon teman-teman, berdoa di dalam kegelapan, doa syukur atas kehidupan yang nyaris sempurna. Kehidupan yang selama ini aku idam-idamkan.
Kala itu waktu adalah pelengkap, sarana untuk mempermudah sesuatu sehari-hari. Menuntuku jadi roda kebahagiaan. Mengingatkan kapan saatnya menabur bunga di makam Ayahku, kakek ku, nenekku dan leluhurku. Membeli hadiah di hari kasih sayang atau di saat tahunan hubunganku. Mengingat tangal lahirku dan tanggal lahir kekaihku. Mengirimi sms pada si dia yang akan ku nobatkan sebagai pencari nafkah supaya tidak terlambat makan. Kala itu. . . waktu bukan sesuatu yang harus di resahkan karena waktu yang berjalan, hanyalah roda yang berputar tiga ribu enamratus detik kali dua puluh empat jam. Gerakan rutinitas kehidupan. Menggelinding di jalan bebas hambatan.
Sementara banyak yang sudah terlupakan. Suara mesintik membahana dalam kamar yang lenggang. Riuh rendah suara karyawan di kafetaria, gedung perkantoran. Ngaceng di Plaza. Mengeluh kepada sahabat tentan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menampar pipi laki-laki kurang ajar di diskotik. Meghapus air mata yang menitik, melamun. Membaca stensilan. Makan nasi goring ayam ramai-ramai dalam mobil di pinggir jalan. Masak Indomie rebus rasa kari ayam. Menatap matahari terbenam. Nonton formula one atau piala dunia di sport Bar. Menatap mata kekasih dengan berbinar-binar. Dan. Aaah… banyak hal lain yang tidak sanggup aku ucapkan.
Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debur, samudera getar, cakrawala harapan setelah aku mengenalnya. Aku terhipnotis olehnya.
Manusia sudah menerima hukuman mati tanpa pernah tahu kapan itu akan di laksanakan. Karena itu aku tidak pernah tau bagaimana menikmati hidup lebih layak, harus merasa terancam atau bersyukur. Di satu sisi aku sudah tidak perlu lagi bertanya-ttaya kapan eksekusi akan dilaksanakan. Tapi apakah setahun selalu aku lewati, yang katanya ada dua belas bulan, 52 minggu, dan 365 hari. Dengan mengingat kekasihku, aku mulai tidak pernah mengikhlaskan semuanya berlalu begitu saja.
Saat bersamanya, aku menolak semua itu terjadi. Sepertinya tidak ingin semua itu terjadi. Rasanya ingin aku menunda waktu. Ingin mengulur siang hingga tidak tiba malam. Ingin merampas bulan supaya matahari selalu bersinar terang. Ingin menghantamkan palu kearah jam sehingga suara alarmku bungkam. Dan juga ingin menunda kematian.
Ah.. biarkan aku hidup lebih lama, bersamanya. Tetap bersamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar