Kamis, 03 Juli 2014

Danu


Perasaan campur aduk, bahkan kota jogja sekarang lagi tidak bersahabat. 

Tidak mungkin aku menyalahkan hujan yang baru saja datang ketika hatiku terbersit sakit, teriak tak berpekik. Ah. . . Aku nyalakan sebatang roko yang sudah mulai aku lupakan 3 hari yang lalu. Brmm... ku tancap si kuning keluar pagar. 



Sial, banyak orang berlalu lalang di tengah hujan. Roko yang tadi ku pegangi mati tak berjejak. 

aku berhenti di sebuah pertigaan, supermarket yang kelihatannya sepi pengunjung. Hanya ada seorang anak dengan baju gober dekil dan sobek. Menggunakan celana SD yang mungkin tak pernah di cuci selama berhari-hari. 


Banyak yang berlalu lalang, sedang memakai pakaian hujan, sedang asik makan di warung tegal, sedang berbagi payung dengan kekasihnya dan melewati jalanan ini bak permadani cinta mereka di tengah hujan. Aku menoleh ke kiri ku, anak kecil tadi sedang asik dengan sendal jepit yang kelihatannya lepas di penjepit jari jempol kaki dan telunjuknya. Dia berusaha memperbaikinya "ah... sudaaah" ujarnya memberi kode sambil menatap hujan.

Seorang pemuda tergesa di depan ku memarkir motornya. Segera dia membuka pintu yang bertulisan "dorong". Bak kereta api yang tak ingin terlambat jadwal pergi, anak kecil yang memperbaiki sendal jepit tadi menghampirinya dan berkata "om.. minta jajan om". 



Si pemuda tak menghiraukan nya. Aku menatapnya, kemudian gesit memalingkan muka saat anak tadi berpaling badan menuju tempatnya semula. 

Beberapa menit berlalu, hujan di jogjakarta masih saja dengan ramainya membasahi aspal hitam dan bangunan kota. Aku mulai berfikir. . . 


Masuklah aku ke dalam supermarket. "Mba.. minta jajan mba" dia tersenyum manis padaku. Tidak sengan wajah yang memelas. Rambut kucai nya pun tidak memberitahukan bahwa dia benar-benar berniat untuk jadi peminta-minta. 



Keluarnya aku, si anak kecil tadi dengan riangnya melambai tangan dan mengatakan "hati-hati mba. . ." 



Setengah jalan di tengah hujan, aku mulai berhenti memikirkan kekasihku yang tadinya sudah akan ku lahap bulat-bulat di penghujung ada ku di jogja. Yang ada di otak ku malah anak kecil tadi. Aku berhenti di depan paman yg menjual singkong keju. 

Dengan uang yang pas-pasan aku memberanikan diri membelinya. 


Sekotak singkong keju berukuran sedang sudah di tangan. Aku putar haluan si kuning dan menepi di tempat anak kecil tadi. 

Seperti yang aku lakukan pertama kali. Aku membuka pintu yang bertuliskan dorong. Sebelum badan ini masuk ke dalam supermarket. Anak kecil tadi berkata "mba. . . Minta jajan". Tanpa ragu aku keluar sebelum masuk. 
"Sini, makan sama mba" ujarku mengajaknya menghabiskan singkong keju bersamaku. 
Awalnya dia terlihat canggung. Setelah aku membuka kotak singkong keju dan menawarkannya kedua kali. Baru dia bersedia makan bersamaku. 



Haha. . . Berakhir memakan singkong keju bersama anak kecil yang tidak aku kenal. 

Pertemuan yang mengasikan. dia memberikan kesan tersendiri saat pertama melihatnya. Tidak bisa di nafikan, ya... dia peminta-minta. Setidaknya dia lebih real dengan meminta makanan dengan orang-orang yang melewati pintu keluar masuk. Memberikan senyuman, dan mendoakan agar berhati-hati di jalan 


Selamat malam, danu. 

Semoga bertemu kembali :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar