(Ketika aku harus menghitung skala 1:1000)
Yups... skala 1 banding 1.000, 1 disitu adalah aku. dan 1.000 adalah bahasa ku untuk menggambarkan banyaknya semut yang ad di kamarku. sedikit hiperbola..
Di mulai dari minggu lalu, curhat dikit ya para bra dan bro. Minggu lalu dimana aku sudah membeli beberapa perlengkapan pengusir semut. Mulai dari kapur ajaib, sekotak kapur ajaib dan beberapa batang kapur yang ada di dalamnya "hedeeh.. bilang beli sekotak kapur ajaib aja pake berbelit-belit" Oke, aku lanjut cerita lagi. Kemudian, setelah beli, segera aku pakai di kamar. Menggaris tepian sudut kramik agar semut-semut itu tidak masuk ke sarang ku.
Keesokan harinya. Nihil... semut-semut itu masih aja bergerumbun, tambah banyak dari yang sebelumnya, menembus benteng pertahanan ku. Bangun tidur, kucek-kucek mata, berdiri, dan meletakan tangan pada pinggangku. "Hufh... pake cara apa lagi ya" Temen di seberang kos ku menjawab "Udaaaah, beli baygon sana. Semprotin aja pake baygon".
Oke, akupun kembali ke super market di dekat kos selepas pulang kuliah untuk membeli baygon. Sampai di kos, pake slayer, tutupi hidung dan mulut. Lalu semprot kamar dengan antusiasnya, sampai-sampai baunya melebihi semprotan petugas demam berdarah. Mati sih semutnya, ada beberapa. Aku tinggal beberapa saat untuk pergi kuliah lagi. "Hahaaa... akhirnya tumbang, semut-semut tadi mati semua. Mampus" Ujarku senyum-senyum sendirian. Temen se-kos ku yang menyarankan tadi bernama nisha ada disamping ku berkata
"Tuh.. kan, mati. hemm..."
"Ho'oh..."
"Apa lagi sekarang yang mau kamu lakukan?"
"Tunggu sekedap..." Aku berjalan keluar kamar mencari semut yang masih hidup, di balkon kos ku ternyata ada segerumbun semut-semut liar itu. Aku ambil lah salah satu dari semut itu. "Mau kamu apain?" Ucap nisha keheranan padaku "Inih... mau ak taroh disini" Menunjuk ke dalam kamar yang penuh dengan mayat-mayat semut. "Buat apa?" Nisha nampak heran padaku. Aku hanya diam saja.
Setelah meletakannya pada mayat-mayat semut, aku mengembalikannya pada barisan semula. Dimana aku mengambilnya di balkon kos ku. "Kamu ngapain sih?" Nisha masih keheranan. "Ini.. aku kan ga bisa bahasa semut. Jadi sengaja ngasih tau ke salah satu perwakilan semut tadi bahwa banyak bangkai temannya di kamar ku". Nisha menaikan alisnya "Lah... Terus?". Aku menatap nisha penuh khitmat "Semut biasanya kalo ketemu saling bertatapan kan, salaman juga (Nisha mengangguk, mengerutkan dahinya) Aku berharap.... (Nisha masih dengan posisi yang semakin keheranan) perwakilan semut tadi juga menyampaikan kabar banyak bangkai di kamar ini. dan berharap gak ada semut-semut lainnya coba uji nyali di kamarku (Aku tersenyum serius di hadapannya)". Dan... nisha khilaf, ketawa tanpa henti setiap papasan denganku. Yang jelas-jelas sudah melewati beberapa hari yang lalu kejadiannya.
Masih belum berakhir sampai disini... Semut, lagi-lagi datang. Aku sudah melakukan berbagai macam cara. Mulai pake kapur ajaib (Gaya power rangger mengeluarkan kesaktiannya), Pake baygon (Meniru gaya jagoan sedang menggunakan senjata api dengan baek. walaupun di ganti dengan baygon semprot), Ngepel lantai, jaga kebersihan, jaga hati, bersihkan diri "Kok ga nyambung ya? Oke... next"
Singkat cerita, Pagi hari yang cerah... Dimana mata kuliah ku masuk jam 10 pagi, aku terpaksa bangun dengan keheranan mendengar suara ngakak tak terhingga dari nisha di balik pintu kamar ku jam 07:30 Am yang sangat cetttarr membahhanaah...
"Apa sih sha? (Ujar ku dengan muka tak bersalah, sambil ngucek-ngucek mata) Hei.... Kenapa eh?" (Aku bertambah bingung, bingung, bingung ku memikirnyaaaa... *Mah kasidahan)
Nisha tak bisa menjawab pertanyaanku satupun, dia hanya memegangi perut, tertawa ngekek, terduduk, dan telunjuknya mengarak ke sebuah kertas putih di depan kamarku...
"Oh... (ucapku singkat) Itu aku buat kemaren malem. saking kesalnya. semua cara aku lakukan. tapi gak mempan-mempan" (Keluhku sambil memandangi pengumuman sederhana yang aku tuliskan dalam selembar kertas putih yang bertuliskan 'SEMUT, Dilarang masuk ! :) ' ) Uwes tooo ketawanya..
Nisha masih ngekek ketawa sambil guling-guling di depan kamar. dan aku hanya bisa masuk ke kamar lagi sambil berharap paku di atas kepalanya segera lepas. Hemmm..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar