Wanita itu, dia adalah seorang wanita yang menikah dengan lelaki sederhana dengan tingkat pendidikan yang biasa-biasa saja.
Namanya Nur, dia menikah di usianya baru saja menginjak remaja, katanya belum lagi umur dia haid ada masuk 5 sampai 6 kali. Karena budaya yang ada di kampung halamannya. Akhirnya dia menikah dengan laki-laki yang berasal dari Kota tetangga bernama Arkasi Basri.
Nur adalah anak sulung dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Anang dan ibunya bernama Djambrud. Dia dibesarkan dengan penuh kesederhanaan dan ketabahan. Dia tidak dilahirkan dari keluarga yang berada, sehingga dia harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri ketika dia meginginkan sesuatu. Singatku, dia adalah wanita yang cerdas, pandai dan bersahaja. Dia mempunyai tulisan tangan yang bagus. Diapun mempunyai otak yang tidak begitu tumpul. Tapi katanya dia harus berhenti sekolah rakyat yang setandar SMA karena ketidakmapanan kedua orang tuanya.
Arkasi adalah lelaki dengan kulit sawo matang, tinggi, pintar, kritis dan taat agama. Dia adalah ayahku, seorang manusia yang terlahir ke dunia tanpa membawa harta dan peta bumi. Dia adalah lelaki yag suka merantau, dan akhirnya berlabuh pada kota kecil bernama Palangka raya.
Saat itu, ayah ku bukanlah siapa-siapa. Dia hanya lelaki dengan ilmu ladang seadanya, dia juga tamatan Sekolah rakyat yang standar SMA pada tahun 70an. Tapi selayaknya manusia pada umumnya, Ayah punya kelebihan dalam bahasa. Dia mampu menggunakan dan memahami beberapa bahasa. Jepang, belanda, Indonesia, cina, dan arab. Itu yang aku tau, entah kalau di luar itu dia bisa menggunakan bahasa lain. Karena tidak sering aku melihatnya bicara pada ayam peliharaannya saat pagi menjelang. Memarahi nyamuk-yamuk di kamar saat petang, atau kadang meniru suara burung beo yang sudah dia pelihara jauh sebelum aku datang.
Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan disini. Karena sudah terlalu sering aku membanggakan ayahku, terlalu sering aku bercerita tentang susah senang ku dengannya pada teman, terutama pada kekasihku, Hilmiy.
Disini aku ingin menceritakan sosok yang selalu mendoakanku saat aku jauh, sosok yang selalu menyelipkan uang jajan di samping kulkas saat aku tidak pernah meminta atau saat aku sedang dalam masa tenggang marah. Sosok yang menghapus air mataku saat aku benar-benar jatuh, sosok yang selalu marah ketika aku harus main di atas pohon kedondong tetanga di belakang rumah. Sosok yang selalu menyuruhku pulang saat aku lupa jam malam, sosok yang pura-pura tertidur di kursi ruang tamu saat aku pulang malam. Sosok yang menahan tangis saat aku memutuskan untuk berpetualang kesini, Yogyakarta.
Ibu, entah tanggal berapa dia dilahirkan. Aku tidak pernah tahu sampai sekarang, yang aku tahu dia di lahirkan di bulan februari. Itupun kalau benar. Padahal dia selalu ingat tanggal lahirku dan selalu memberiku hadiah tepat waktu.
Nur, dia di lahirkan di desa kecil yang tidak pernah ada dipeta sampai sekarang. Orang biasanya menyebut kota kecil itu Kuala Kapuas. Tapi ibu lahir di sebuah pulau yang terlepas dari Kapuas, namanya Murung keramat. Disitu pula aku dilahirkan. Sampai sekarang aku tdak pernah tau kenapa desa itu dsebut murung keramat. Ibarat film, dengar judulnya saja sudah horror. Apa lagi masuk wilayahnya? Hemm.. tapi desa itu tidak segitu menakutkan, desa kecil yang tidak bisa di lalui mobil ini sangat asri. Terletak di tengah-tenggah Sungai Kapuas. Jalanan tidak terbuat dari aspal, tetapi dari tongkat dan kayu. Ada sedikit daratan. Tapi itu sangat kecil sekali. Sebagian di gunakan untuk bercocok tanam dan beternak. Sebagian lagi untuk membangun rumah adat yang alakadarnya.
Entah berapa umurnya sekarang, entah dia bisa membaca tulisan ini atau tidak. Aku hanya ingin menulis beberapa kisah ku saat masih kecil bersamanya. Kira-kira cerita ini dimulai sejak aku kelas 3 SD. Saat aku benar-benar tahu jika aku masih mempunyai dia, Ibu ku.
Setiap pulang sekolah aku selalu membuatnya marah dengan ulahku. Sekolahku yang dulu berdekatan dengan rumahnya. Sehingga dia tau sifat nakalku. Tidak sekali dua kali dia di panggil kesekolah karena ulahku. Ulahku yang suka menempelkan permen karet pada rambut seorang teman wanita yang aku benci dan akhirnya rambutnya harus di gunting. Ulahku yang selalu tidak pernah pergi kesekolah tepat waktu dan harus memungut daun-daun kering di depan sekolah, sesekali jika dia melihatku di hukum. Dia membantuku memungut daun-daun itu agar cepat selesai dan aku bisa melanjutkan pelajaran. Walaupun aku tau, dia rela membantuku dan terlambat perg kekantor. Ada juga ulahku yang memecahkan gelas dan piring milik sekolah saat jadwal piket kebersihan, lalu dia menggantikan piring dan cangkir itu pada guru kelasku tanpa sepengetahuanku. Dan banyak hal lainnya.
Hemm... Rumah ku atau rumahnya?
Yah.. inilah keangkuhanku sejak kecil pada sebuah Tivi 14 inci. Rumah ibuku terlalu kecil saat itu. Ruang tamu dan ruang keluarga dijadikan satu. Tempat kami mengenal hati satu sama lain, salah satu kenangan manis di ruangan itu adalah ketika kami kedatangan tamu. Aku dan semua kakak-kakak ku harus pergi keluar atau mengurung diri di kamar. Dan aku selalu kehilangan momem menonton kartun kesayanganku tentang cerita rakyat kijang mas. Kami selalu berharap agar setiap tamu yang datang cepat pulang. Atau kadang kakak wanitaku nomor dua selalu membuat air dengan mengaduknya begitu kencang, atau kadang dia mengambil cobek dan menggosok-gosokan ulekannya dengan keras. Menurutnya dan kepercayaan orang dayak, hal itu akan membuat tamu agar cepat pulang.
Aku salah satu orang yang paling galak dan suka sekali mempelototi tamu itu agar mereka tidak betah dan cepat pulang. Rumah ibuku terlalu kecil, dan aku merasa mereka sudah mengambil ruang bermainku.
Aku dan saudara-saudaraku tumbuh di rumah yang kecil di bangun dengan cinta dan kesederhanaan. Bangunan fisik rumah kecil dan apa adanya, melahirkan ruang yang begitu besar pada hati kami untuk menerima kehidupan, betapapun kecilnya kebahagiaan lah yang kami terima. Kami tumbuh dalam enam detak jantung dan satu hati.
Itulah rumah kami. Di rumah mungil yang berlantai kayu dengan semua ketdaknyamanannya, kami merasakan cinta dan kesedihan bersama-sama. Di rumah mungil itulah cita-cita sederhana pertamaku mulai bersemi. Mempunyai sebuah kamar tidur sendiri, di lantai dua dengan taaman kecil yang asri.
Daerah Istimewa Yogyakarta. . .
Disinilah si anak bungsu Nur itu berada, Aku. . . bukan karena keinginan terbesar ku hidup disini. Bukan karena alasan ingin kuliah aku hidup disini. Awalnya aku hanya bosan di rumah dan memang ingin meninggalkan Palangka Raya. Tapi akhirnya aku rindu.
Beberapa hari yang lalu, rinduku semakin besar. Apalagi ketika aku ingat dia. Ibuku, dan semua kenangan yang sudah terukir disana. Di tanah kelahiranku.
Ibuku, dia adalah sosok yang tabah yang pernah aku punya. Dia bahkan tidak pernah menyela keinginanku untuk hidup berjauhan dengannya. Satu pertanyaan yang aku ingat ketika aku memutuskan untuk pergi kesini “Apa kamu bisa jaga diri? Hemm.. jangan di jawab, buktikan saja nak” hanya itu. Hanya itu pertanyaan yang ku anggap pesan darinya. Dia tidak seperti kakak-kakak ku yang menentang aku pergi, dia berusaha melihat dan memikirkan sesuatu dari sudut yang berbeda. Walaupun aku sangat mengetahui, dia belum pernah ikhlas aku meninggalkannya.
Sesekali aku mengingat ketika senja tiba, dia selalu memitaku menyiapkan teh hangat yang berwarna merah tua dengan gula dua sendok makan lalu mengajakku menikmati pemadangan di depan rumah. Melihat para ibu-bu yang baru mengajak anaknya bermain, sembari menyauapi makanan. Melihat burung pipit yang membentuk sarang pada pohon cemara kesayangannya, atau melihat beberapa orang membersihkan got dan halaman. Dia selalu mengajarkanku berbagi kisah yang di lalui hari ini. Ah... aku rindu kamu, bu !!
Hemm. . . masih banyak lagi, tapi menulis kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian. Banyak lembar ingatan yang tidak berani aku sentuh. Karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tidak ada kekuatan diriku untuk merendamnya. Biarlah semuanya menjadi salah satu kebahagiaan sederhana yang abadi. Kebahagiaan yang terbawa sampai sekarang. Dan yang mungkin akan menyelamatkan masa dewasaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar