Kesederhanaan itu tidak mudah aku cerna sebagai anak-anak dulu. Kadang pedih tidak ada mobil-mobilan, boneka, les bahasa inggris, internet, lebtop, dan sepeda BMX. Bahkan ketika aku meminta buku-buku pelajaranpun harus diseleksi. Banyak keinginan terpendam yang masih aku ingat sampai saat ini. Pada saat lebaran contohnya, ibu selalu bertarung membelikan baju baru untuk kami. Inilah pengeluaran “termewah” untuk kami, anak-anaknya. Dan dia selalu mencari pilihan terbaik sesuai dengan uang yang ada. Pernah, dia baru bisa membelikan ku baju baru setelah selesai sholat Ied, itupun setelah mendapat pinjaman uang. Sementara aku berdiri dengan teganya, bahkan sampai menangis meminta baju baru jauh sebelum hari lebaran. Hampir setiap hari aku menanyakan baju lebaran itu. Betapa aku tidak pernah mengerti, ibuku menjajah dia. Dirinya. . .
Itu adalah kenangan pahit yang bisa membuat aku sekarang membentuk sebuah sifat. Tidak pernah meminta padanya, bukan karena dia tidak mampu. Tapi aku terlalu takut untuk menjadikan diri ini sebagai benalu.
Aku sering melihat awan gelap di atap rumah ku dulu, bahkan kadang badai. Apalagi ketika aku beranjak besar. Biaya sekolah, seragam, buku pelajara membengkak. Kebijakan ibu menyelamatkan kami. Aku dan semua sodara-sodaraku. Ketegarannya sekali lagi di uji menghadapi kesulitan yang ada. Ketekunannya, air matanya, membawa ku melalui awan gelap itu. Ibu, di balik kelembutannya. Menyimpan kekuatan yang luar biasa.
Saat itupula aku berhenti, beranjak dari sifat-sifat yang menurutnya buruk. Aku mulai membalasnya dengan beberapa prestasi yang aku punya. Karena memang itu yang aku bisa.
Sesampainya aku di Yogyakarta, hemm.. aku mungkin salah satu siswa terbaik di kota cantik Palangka Raya. Di bawah kaki bukit tangkiling dengan jumlah siswa alakadarnya. Tapi disini, aku menjadi sangat “kecil” di tengah siswa berprestasi lainnya. Ada siswa broadcasting dari klaten yag selalu ikut lomba short movie, ada siswa yang pernah ikut olimpiade, ada yang sudah mempunyai dan memproduksi novel sendiri. Ada juga siswa yang berasal dari komunitas dengan pengalamannya yang segudang tentang jurusan film. Yah.. broadcasting film. Itulah jurusan yang aku ambil, jurusan yang membawa aku bersaing dengan mahasiswa lainnya walaupun kadang aku selalu mengatakan kampus biru itu adalah ladang bermain. Tapi yakinlah, semua hanya terlihat dari luarnya saja. Ketika masuk di dalamnya, semua akan terlihat tidak baik-baik saja.
Yogyakarta 08:30 Pm, 3 mei 2013
(Telpon berdering) “Hallo nak? Lagi apa??”
(dalam hati “ah.. aku benar-benar rindu, aku ngin pulang ma”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar