Salatiga. . .
Nggak banyak hal menarik yang bisa aku ceritakan disana. Hanya sedikit tempat yang aku tau, seperti selasar, pancasila, rumah kekasihku, dan beberapa sawah yang langsung condong menyorot gagahnya Gunung merbabu.
Ini salah satu cerita pertengkaran ku dengan kekasihku, dari jutaan pertengkaran kami. Mungkin ini adalah salah satu hal yang dapat aku ceritakan (Menarik bagiku untuk di ceritakan). Nggak banyak berharap kisah ini dapat menginspirasi. Aku hanya sekedar menggoreskan pena saja di atas lelah aktifitasku dari tadi pagi.
Siapa tau dengan mengingat ini lelahku luntur tiba-tiba.
Oke, aku kurang begitu ingat pada tanggal berapa kejadian ini. Yang aku ingat kejadian ini terjadi pada saat kekasihku belum patah kaki. Nah.. kisah ini berawal dari sebuah, seonggok, segenggam, kelakuan Hilmiy yang. . . Mungkin lebih tepat jika ini disebut keahliannya.
Keahlian Hilmiy, Cuma 2 hal :
1. Susah di suruh tidur
2. Jika sudah tidur, lebih susah lagi di suruh bangun.
Hari itu matahari sedang cerah-cerahnya, pagi yang menurutku sangat sempurna untuk kembali lagi kekota tempat aku menuntut ilmu, Yogyakarta. Ya.. berharap pada hari itu hilmiy bangun pagi, tersenyum, kemudian berkata “Mau pulang kapan, mel? Aku antar pulang ya?”. Dan adegan selanjutnya aku senyum dengan tersipu-sipu. Kemudian kita pulang dengan menyaksikan pemandangan indah, seperti daerah boyolali yang di penuhi padat penduduk dan susu segar, patung sapi dimana-mana, dinginnya kota klaten dengan hamparan padi yang hampeir menguning sepanjang jalan. Atau kalau kita mampir di jatinom kita bisa berhenti sejenak bak menikmati bubur kacang hijau di warung langgananku. Hemm. . .
Tapi akhirnya kejadiannya nyatanya adalah; aku sudah bangun sepagi mungkin. Mencoba tersenyum semanis mungkin ke arahnya yang masih tidur di depan TV bersama tomo adik kandungnya. Mereka tarik-tarikan selimut, dengan muka yang kummel dan nafas yang bau dia gak pernah menyadari sedetikpun kehadiranku. Aku coba bersabar sebagai kekasih yang baik (Echemmm...). menuju kekamar mandi dan mencoba memberanikan diri untuk mandi dengan air yang ku fikir itu sudah di campur pecahan es dari skotlandia. Dingin yang menusuk, aku ambil air sedikit demi sedikit kemudian membersihkan sekujur tubuhku agar tampak harum dan cantik.
Selesai aku mandi dengan penuh perjuangan di pagi hari, aku ke arahnya lagi yang sedang tidur di depan TV dengan gaya yang sduah berbeda. Yang awalnya berselungkup udang dan menutupi sebagian badannya dengan selimut, sekarang menjadi rebah bebas, mulut mancung dan terbuka, megeluarkan suara dari tenggorokan dengan perlahan, dan salah satu tangan yang sudah masuk dalam saku celana sembari sesekali mengelus (sesuatu). Jika di fikir lagi, mungkin setelah melihat adegan sepagi itu begitu, aku akan memikirkan ulang kenapa aku bisa bersamanya.
Aku masih dengan senyuman sabar, aku bangunkan dia dengan penuh kasih sayang. (1 jam kemudian) Bau badanku yang berasal dari sabun sudah luntur, kartun spongebob sudah selesai. (2 jam kemudian) rambutku yang sudah terikat rapi sekarang terurai. (3 jam kemudian) jaket yang aku kenakan tadi pagi setelah mandi sudah aku lepas. (4 jam kemudian) dia bangun, tersenyum tanpa dosa kemudian tidur lagi. (5 jam kemudian) bedak yang ada di wajahku sudah mulai luntur.
Treeeenggg... jam 12:00 siang, saatnya bangun. Aku berharap dia sadar akan kehadiranku. Ternyata TIDAK !! dia mengambil Hapenya dan membuka beberapa situs di hapenya, membuat beberapa status di FB yang dia lakukan dengan pemikiran penuh khidmat dalam beberapa menit penantianku. Kemudian bangun, dia duduk dan bersender pada dinding sejenak. Aku tersenyum lagi. . . alih-alih berharap dia akan mengajakku berbicara dan berucap maaf baru bangun jam dua belas siang, eeee malah megambil sebatang rokok. Mengisapnya dan baru menyapaku “Kok kamu dekil, belum mandi ya?”. -.-“ (Alhamdulllah waktu dia berkata seperti itu, di ruangan itu tidak ada benda tajam)
Aku melancarkan jurus andalanku, (Ngambek. . .) dengan posisi persiapan yang sudah sempurna, tas aku selempangkan di pundak, jaket aku pasang dengan cepat. Kemudian aku turun ke bawah berharap dia sadar “semiotik” apa yang aku berikan. Lagi-lagi dia membuatku jengkel dengan berkata “tunggu di bawah, selesai siap-siap aku turun”. Hffffh. . .
***
Di garasi, tempat aku menunggu hilmiy yang sudah menelan waktu sekitar setenah jam. Aku membuka beberapa sms/wa/bbm di hapenya. Terdapatlah beberapa nama wanita yang sering kontak-kontakan dengannya. Entah dengan gelar “beb” lah, entah membahas sesuatu hal pribadi lah, entah membahas tentang masalalu yang pernah sama-sama suka lah. Melihat percakapan itu. . . aku yang mudah cemburu ini langsung panas dalam. (sayangnya saat itu nggak ada adem sari. . .)
Hilmiypun turun, memanaskan motor. Mengeluarkan motornya dari dalam garasi, dan menanyakan “kamu kenapa?”. Aku pelototi dia dalam-dalam. “Yuk. . .”
Sepanjang perjalanan aku diamkan dia, sampailah kami di daerah boyolali. Harinya sangat panas, jalanan sangat ramai, fikiranku tambah membuncah. Karena aku diamkan, hlmiy yang kurang peka inipun ikut-ikutan diam. “aaaaaaaaa. . .” aku berteriak duduk di belakangnya “Kenapa kamu ikutan diam? Siapa tuh cewek-cewek yang bbman sama kamu? Kenapa panggil-paggil beb? Pacarmu siapa???”. Enough. . . singkat cerita aku marah-marah dari boyolali sampai klaten kota. Aku membahas dari akar sampai ujung cabang masalah yang membuat aku kesal.
Gak terlihat lagi klaten bersinar dengan beberapa hamparan padi yang hampir menguning, jalanan jatinom yang semakin rusak dengan debu dimana-mana ketika truck lewat, aku tidak berhenti memarahinya sepanjang jalan. Hilmiy lagi-lagi hanya diam.
Akupun mulai lelah setelah hampir satu jam marah-marah. Untuk beberapa menit aku diamkan dia, sampailah kami pada lampu merah tugu tenun klaten. Hilmiy yang tadinya memegang stang motor melepas pegangannya, memalingkan wajahnya ke belakang, menatap mataku dan berucap. . .
“KAMU LAPAR???”
“F*ck . . . 0.0” Ucapku dalam hati, setelah sekian lama aku marah-marah dan kesal sepanjang jalan boyolali - klaten, berharap dia menenangkanku. Tetapi yang ada begitulah dia dengan ke-PEKO-an mesranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar