14 Januari 2013
Itu adalah hari bersejarah bagiku, setelah 17 agustus, 02 mei, dan 04 maret. Dimana tepat tanggal 14 januari 2013 kemaren aku di tembak lebih tepatnya ada seorang lelaki 3J dalam hidupku mengungkapkan cintanya (3J : Jorok, Jelek, Jadul). Tapi aku sayang kok
Masih ingat ketika sore itu, setelah satu hari satu malam aku nggak bernat sedikitpun untuk memegang hape. Dan berencana mengurung diri di dalam kamar berukuran 3x3m dengan warna coklat latte di lantai dua.
Kira-kira jam 03:30Pm waktu itu, aku melihat sebuah hape blackberry Gemini hitamku yang tergeletak kasihan meminta di isi batrei. Hemm. . . akhirnya aku ambil hape itu, dan membuka beberapa orang yang sudah menghubungiku, salah satunya adalah Tuan besar Rasih Mustaghis Hilmiy, dengan beberapa lemparan sms, whatsup, dan telpon berkali-kali.
Dalam keadaan yang masih malas, aku baca isinya, dan kemudian membiarkan hapeku untuk di charge kembali tanpa membalas satupun isinya. “Kriiiiiing. . .” Hape berbunyi. Disitu tertera nama “Antalani”. Awalnya aku nggak berniat sedikitpun untuk menjawab telponnya, hemm akhirnya aku angkat juga. Dari seberang sana, hilmiy tampak bersuara sembab, sedih dan selalu menarik nafas berat jika mengeluarkan sebait dua bait kalimat.
Sampai akhirnya dia meluncurkan kalimat “Aku sayang kamu, kamu mau nggak jadi seseorang yang mempunyai arti lebih buat ku?” Taraaa. . . Memang sih kalimat itu sudah aku tunggu sejak lama, tapi aku coba mendiamkannya sejenak. Untuk berfikir (Ceritanya. .) akhirnya jam menunjukan pukul 04:04 Pm “Ya. . . aku mau”
***
Disinilah penderitaanku dimulai, aku baru tahu seorang lelakiku yang sudah bersamaku lebih dari satu tahun adalah laki-laki yang malas, jorok pangkat kuadrat, jadul abis, Nggak ngerti fashion dan kalau sudah ngajak debat selalu tentang aparatur Negara atau pertanian. Tapi aku sayang, ketika dia sudah menjelaskan sesuatu yang aku tidak pernah mengerti sebelumnya, dia akan memainkan tangannya, menjelaskan sedetail-detailnya, mengerutkan mata dan alisnya, walaupun lebih sering dia memancungkan bibirnya saat mengolah kata demi kata. Tapi dia terlihat menawan, yaaah.. hitung-hitung aku dapat pengetahuan lebih ketika dia mempunyai semangat 45 saat menjelaskan hal yang dia suka.
Dan itu akan berbanding terbalik ketika aku yang menceritakan sesuatu yang aku suka. Aku akan menceritakan beberapa film yang sudah aku tonton, atau aku membahas tentang warna baju apa yang harus aku pakai jika di gabungkan dengan warna lainnya, atau apapun yang berhubungan dengan wanita. Dia akan pura-pura tidur, memainkan hapenya, membaca beberapa news di tempo.com dan situs-situs sejenisnya, atau kadang dia langsung berkata “sayang, kamu pakai baju apapun akan terlihat cantik” (aku tau, sebenarnya kalimat itu akan dia pakai jika dia ingin aku mengakhiri pembicaraanku). Dan aku akan mengeluarkan muka sinisku sambil berkata “kamu denger nggak sih yang aku bicarakan?”.
Saktinya kekasihku, jika aku sudah melayangkan pertanyaan seperti itu, dia mampu membuat notulen apa saja yang aku bicarakan sebelumnya tanpa harus memperhatikanku.
***
Hal jorok lainnyapun semakin kesini semakin terungkap, ketika beberapa bulan yang lalu dia jujur padaku di moment yang menurutku itu adalah moment yang sangat romantic, karena jarang-jarang dia memegang tanganku, kita duduk berdua, menceritakan kekurangan-kekurangan kita. Tiba-tiba dia merusaknya lagi dengan berkata “Mel, kamu kok bisa nerima aku dulu? Padahal waktu aku nembak, posisinya aku ada di kamar bascame, baru bangun tidur, ileran, sudah beberap hari belum mandi, tai mata nyantol sana-sini?”. Mendengar dia berkata seperti itu aku langsung menutup mata dan menekan bibir masuk kedalam. T.T
***
14 januari 2014, Tanggal yang cantik bukan?
Tepat tanggal 13 januari, malam, hujan-hujan, dan sempat kebocoran ban di daerah boyolali. (di itu loh. . . yang ada patung sapi) nah disitu aku menderita, aku menggeret motorku lumayan jauh. Untungnya waktu itu aku bersama seorang lelaki yang sudah aku anggap seperti adek ku sendiri. Teman curhat kesana kemari. Namanya M. Sofyan.
Jam 09:00 aku baru tiba di salatiga, membawa satu bingkisan yang sudah aku bungkus rapi berharap akan memperoleh moment yang bahagia di malam harinya karena satu tahun jadian kita. Tetapi semua gagal total, “Ini juga gara-gara dia. Huh. . .”
Sebelumnya aku sudah menyiapkan sesuatu secara matang, berharap ketika sapai masuk caffe merah putih aku menyanyikan lagu ciptaanku sendiri di hadapan umum. Dan alhasil. .
Aku sampai di caffe merah putih dengan dekilnya karena sudah kehujanan dan bau keringat gara-gara dorong motor. Baju sudah compang camping kesana kemari. Harga diri masih belum kering, dan dia dengan manisnya berkata, aku nyanyi ya. Buat kamu. .
“I close my eyes, Only for a moment and the moment’s GONE. .” Dia menyanyikan lagu dengan gayanya kansas-Dust in the wind. . .(kalian tau kan lagu itu artinya apa?? 0.0)
Sesampainya kami di rumahnya, Nggak ada satupun ucapan happy unniversary untuk ku, dia memperlakukanku seperti biasanya. Makan, minum, jalan, marah, ngambeg-ngambegan. Semuanya terlihat biasa untuknya. Sesekali aku pancing untuk mendapatkan selamat darinya. Ternyata masih juga nggak aku dengar. Akupun meletakan dengan biasa-biasa saja hadiah yang aku bawa. Melupakan niat awal memberikan hadiah itu dengan romantis.
***
Keesokan harinya aku pulang, dan lusanya dia menyusulku ke Jogjakarta. Waktu itu sudah malam, sekitar jam 11:00 Pm dia sampai. Dia menyalakan sebatang roko, mengisapnya dan meletakan bungkusan sisa snack di dekatku. “Tuh ada roti sisa, buatmu. Aku bawa dari salatiga”. Aku sudah berfikir “What? Aku di kasih sisa?”. Aku buka lah kotak snack yang sudah lecek itu dengan malas-malas. Tiba-tiba di dalamnya ada kotak lagi yang terbungkus oleh kertas kado warna merah dan bebrbentuk love-love. Dengan senyum-senyum sendiri aku membukanya, di dalamnya ada sebuah jam tangan warna coklat kesukaanku, terbuat dari kulit dan bola lingkarnya berwarna emas. Jam yang sederhana tapi terlihat elegan jika di kenakan di tanganku. Akupun tersipu saat itu, di tambah lagi dengan sikap cueknya mengisap roko dan berkata “Happy late unniversary”. Hemm. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar