Aku mencintaimu sepenuh hati. tidak peduli lagi tepat atau tidak. tidak peduli kau menyadari aku hilang atau tampak.
Dulu kamu adalah pujangga. seorang arwah pujangga tersasar masuk ke
dalam tubuhmu. dulu kamu berkata-kata bak mutiara nan wangi. dan mutiara
sangatlah aneh di tengah batu kali.
Pikiranku adalah seribu persimpangan dari sekotak korek api. karena itulah aku anomali
Sudah ku menangkan taruhan ini, bahkan dengan sangat adil. jauh
sebelum kamu menyerahkan kertas dan pensil. karena rinduku menetas
sebanyak tetes gerimis. tidak butuh kertas atau corengan garis.
Genggamlah jantungku dan hitung denyutnya...
Sebanyak itulah aku nerindukanmu.
Karena ini ia di namakan si jantung hati. memompa lembut seperti
angin memijat langit. berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
Dan darah cinta adalah udara, dengan roh rindu yang menumpang lewat di dada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar